Dalam film Dua Garis Biru, Dara dan Bima adalah dua tokoh utama kita. Pasangan ini tipikal dua remaja yang jatuh cinta pada umumnya. Ke mana-mana bersama, saling membela, dan tak ragu menunjukkan perhatian di depan teman-temannya. Ajakan Dara kepada Bima untuk ikut pulang ke rumahnya pada suatu hari, menjadi titik mula petaka mereka berdua dan keluarganya. Dara hamil. Kemesraan yang biasanya ditunjukkan sehari-hari di sekolah perlahan pudar. Dua sejoli ini masih menyembunyikan hal tersebut sampai akhirnya, rahasia tak bisa lagi dikubur. Kekagetan dan kekecewaan luar biasa hadir dari orang tua keduanya. Dara, lahir dari keluarga cukup berada. Ibunya, Rika Lulu Tobing wanita karier yang begitu perfeksionis dan sudah menyiapkan segala hal bagi anaknya serta seorang ayah pebisnis. Lain dengan Bima yang berasal dari keluarga sederhana. Ibunya penjual pecel Cut Mini, bapaknya pensiunan, mereka tinggal di perkampungan yang jauh dari gedung-gedung tinggi di Jakarta. Cara para orang tua menghadapi masalah ini pun berbeda. Keluarga Bima boleh dibilang cukup religius. Perbuatan yang dilakukan Bima disebut sebagai dosa. Cukup butuh waktu bagi sang ibu untuk akhirnya bisa lebih tenang dan memahami, apa yang terjadi pada anak bungsunya itu tetap saja ada kesalahan dari bagaimana ia berkomunikasi dengan anaknya. Setidaknya dialog-dialog itu hadir dan menghangatkan. Sebuah kontemplasi, bukan diisi khotbah dan pertobatan semata. Begitupun dengan pihak keluarga Dara. Mengetahui putri sulungnya yang cerdas dengan sejuta mimpi itu hamil, seketika bayangan itu runtuh lantaran membayangkan kehamilan sontak merusak masa depan. Dari perbedaan kelas ini pula muncul bagaimana penentuan keputusan hadir. Bagaimana satu persatu keputusan yang diambil bermula dari luapan emosi, perlahan digiring untuk membuka pintu dialog yang lebih lebar dan dewasa. Kisah Dara dan Bima mengingatkan kita pada Juno 2007, gadis SMA pecinta musik rock yang positif hamil. Juno juga bukan remaja yang sembarangan dalam bergaul. Namun, tentu saja Dara dan Juno dua remaja berbeda mengingat banyak unsur yang melekat dalam kultur keduanya. Tapi bagaimana Dara dan Juno mencoba menerima perubahan fisik, menghadapi segala persoalan dalam kondisi hamil, tanpa keluhan adalah luar biasa. Keputusan Dara mempertahankan kehamilannya membuat dirinya harus berhenti dari sekolah. Kritik ini pun disampaikan Gina lewat pernyataan keras Rika kepada pihak sekolah mengapa hanya putrinya yang bisa dapat sangsi sedangkan anak laki-laki masih bisa melanjutkan sekolah. Dalam film ini tak begitu ditunjukkan bagaimana kehamilan seorang remaja mengundang sinis atau perbincangan miring di lingkungan sosial. Gina mengemas kisah Dara dan Bima bukan sebagai tragedi. Drama keluarga ini diramu kental dengan nuansa keseharian. Kritik-kritik sosial pun diluncurkan demikian halus dari berbagai dialog juga adegan-adegan, serta beberapa analogi. Kepolosan dan cara Dara serta Bima mencoba lebih dewasa dengan naifnya menghadapi masalah mereka terasa natural—sebagaimana cara berpikir anak SMA. Bima yang dasarnya tak terlalu pandai—berkebaikan dari Dara—juga kerap menunjukkan kenaifannya di depan banyak orang. Termasuk soal penafsirannya terhadap makna dua garis biru. Di sinilah Ginatri S. Noer atau Gina S. Noer menyajikan sebuah cerita. Gina menyodorkan sebuah masalah dan juga menawarkan cara. Betapa anak remaja melakukan kesalahan yang cukup fatal, orang tua tetap punya peran penting. Bukan lantas menyalahkan dan merutuki bencana. Gina menjalin cerita yang begitu solid hingga akhir. Cerita yang sudah kuat tersampaikan dengan baik lewat peran para aktor muda dan senior yang luar biasa. Sebut saja Adhisty Zara, Angga Yunanda, Cut Mini Theo, Arswendy Bening Swara, Dwi Sasono, Lulu Tobing, Rachel Amanda, dan Maisha Kanna. Dua Garis Biru adalah debut Gina sebagai sutradara. Selama ini namanya sudah malang melintang di banyak film sebagai penulis cerita. Dua Garis Biru menjadi sebuah film remaja-keluarga yang menggedor orang tua untuk tak menutup pintu dari masalah anak-anak mereka. Dua Garis Biru Sutradara Gina S. Noer Produksi Wahana Kreator, Starvision Penulis Gina S. Noer Pemain Adhisty Zara Zara JKT48, Angga Yunanda, Cut Mini Theo, Arswendy Bening Swara, Dwi Sasono, Lulu Tobing, Maisha Kanna, Rachel Amanda, Asri Welas Durasi 113 menit Klasifikasi LSF 13+ Rilis di bioskop 11 Juli 2019 TEMPO STUNTING ACEH 31 PERSEN, SATU TINGKAT DIATAS PAPUA DAN PAPUA BARATAIR PARIT PEMBUANGAN DI ACEH UTARA BERWARNA MERAH DARAHDETIK DETIK ROHINGNYA TERLIHAT DI PERAIRAN BIREUEN ACEHBENDERA BULAN BINTANG BERKIBAR DI LHOKSEUMAWE
Berikutadalah sinopsis Film Dua Garis Biru, sudah tayang mulai 11 Juli 2019!
Data dari UNICEF per Juli 2018 menyebutkan bahwa 650 juta perempuan di seluruh dunia yang hidup saat ini menikah sebelum usia 18 tahun. Jumlah pernikahan dini tertinggi ada di Asia Selatan. Satu dari lima perempuan menikah sebelum usia 15 tahun dan 45% dari perempuan berusia 20-24 tahun menikah sebelum usia 18 tahun. Angka ini sebenarnya menyedihkan. Tapi, pernahkah kita memberikannya perhatian? Pernahkah kita berpikir bagaimana cara menurunkan atau bahkan menghapuskan angka nikah dini? Isu inilah yang coba diangkat oleh Dua Garis Biru. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Ginatri S. Noer yang telah melahirkan beberapa karya seperti Habibie dan Ainun, Ayat-ayat Cinta, dan Posesif. Ada beberapa bintang muda maupun kawakan yang membintangi Dua Garis Biru seperti Zara JKT 48, Angga Aldi Yunanda, Cut Mini, Lulu Tobing, Dwi Sasono, Ligwina Hananto, hingga Asri Welas sebagai cameo. Soundtrack-nya pun sangat indah mulai dari Biru oleh Banda Neira, Growing Up oleh Rara Sekar, dan Jikalau oleh Naif. Sebuah paduan yang sempurna. Dara dan Bima adalah pelajar kelas 3 SMA yang sebentar lagi akan melaksanakan Ujian Nasional. Sepasang kekasih ini berada di kelas yang sama bahkan duduk sebangku. Dara yang pintar berasal dari keluarga berkecukupan. Bima yang nilainya selalu jelek berasal dari keluarga tidak mampu. Perbedaan latar belakang tidak menjadikan hubungan mereka canggung. Seperti layaknya dua remaja yang dimabuk cinta monyet, Dara dan Bima selalu menghabiskan waktu bersama hingga akhirnya hubungan sex di luar nikah itu terjadi. Mereka sempat berada di fase denial dan saling mendiamkan. Baik Dara maupun Bima sama-sama takut dengan kondisi yang tidak mereka harapkan. Apalagi Dara adalah anak berprestasi yang dipercaya dengan baik oleh kedua orangtuanya. Namun Bima menenangkan dengan mengatakan orangtua pun memiliki batasan dalam merasakan malu maupun marah. Orangtua mereka pasti memihak mereka. Dara dan Bima berpikir terlalu positif karena menganggap orangtua mereka akan maklum. Namun kondisi selanjutnya tidak mereka duga. Inilah titik balik dari hubungan maupun masa depan mereka. Dara dikeluarkan dari sekolah karena dianggap membuat malu. Orangtua Dara merasa sekolah tidak adil karena Bima tetap dibiarkan menuntut ilmu. Orangtua Bima membela anaknya dengan mengatakan bila Bima tidak berpendidikan, bagaimana ia akan jadi ayah di masa depan? Ini adalah sesuatu yang jamak kita temukan pada kasus hamil di usia dini maupun pernikahan dini. Perempuan seperti disuruh menanggung bebannya sendiri. Padahal perempuan juga sama berhaknya untuk tetap berpendidikan meski dalam kondisi hamil. Dua Garis Biru tak hanya berhasil menyajikan kenyataan pahit mengenai isu hamil di luar nikah dan pernikahan usia dini. Film ini juga mengangkat isu soal kesetaraan gender, hubungan antara orangtua dan anak, serta betapa tak sederhananya cinta itu dijalani. Bima mungkin berjanji untuk tidak meninggalkan Dara. Tapi dengan mudahnya janji itu ia ingkari. Ia justru menunjukkan bahwa ia bukan orang yang tepat untuk menjadi suami apalagi seorang ayah di usia begitu muda. Ia menguatkan fakta bahwa pernikahan dan kehamilan memang bukan untuk anak seusianya. Sebaliknya Dara adalah gambaran kebanyakan perempuan dalam kasus hamil di luar nikah maupun pernikahan usia dini. Jangan bicara jauh-jauh soal stigma sosial. Tapi mari kita bahas kondisi Dara secara personal. Kehamilan di usia Dara berisiko tinggi dan rentan keguguran. Ia terus ketakutan apakah impiannya untuk kuliah di Korea akan tercapai. Ingin sekolah, tapi hanya bisa di rumah. Perubahan tubuhnya yang drastis membuatnya syok. ASI yang merembes tiba-tiba padahal waktu melahirkan masih lama hingga perut yang sering kram tentu menganggunya. Walau Dara kuat dan bertekad memertahankan kehamilan, ada masa ia merasa sangat down. Apalagi kata-kata Bima yang menusuk Dara bahwa ia menggunakan air mata sebagai senjata. Angga Yunanda & Zara JKT48 Starvision Harus diakui, yang menjadikan naskah dari film ini brilian tak hanya konflik soal Dara dan Bima semata. Bagaimana orangtua Dara dan Bima belajar untuk menerima kenyataan perlahan-lahan pun sangat menarik dinikmati. Ibunya Dara mengalami fase denial yang jauh lebih lama. Hubungannya dengan Dara hancur berkali-kali meski berhasil diperbaiki. Sebagai seorang ibu, ia merasa terpojok. Di satu sisi ingin menyelamatkan Dara agar tidak merasakan kesulitan tetapi di sisi lain ia justru tidak menghargai keputusan Dara dan Bima. Begitu pula ibunya Bima yang syok. Meski ia tak berharap mendapatkan cucu di usia putranya yang begitu muda, ia bersikeras memertahankan anak itu. Ligwina Hananto yang sebenarnya adalah seorang perencana keuangan ternyata juga mampu berakting dengan sangat baik sebagai seorang dokter kandungan. Caranya menjelaskan kondisi kehamilan Dara adalah salah satu konten edukasi sex yang sangat penting disimak. Tutur katanya tak menggurui dan justru sedikit menggelitik. Ini karena akhir-akhir ini Ligwina menjajal profesi stand up comedy. Ia berhasil menjelaskan konten edukasi sex dalam Dua Garis Biru tanpa membuat penonton merasa jenuh ataupun bingung. Dua Garis Biru tak hanya berhasil mengangkat topik yang dianggap tabu oleh banyak orang tetapi juga membuka mata kita betapa pentingnya isu ini dibicarakan. Ketika orangtua membesarkan anaknya, bukan hanya soal apakah ia sehat atau rajin belajar saja yang penting. Menanyakan apakah ia sudah beribadah atau belum juga tidak cukup. Selain pendidikan di sekolah maupun pendidikan agama di rumah, sudah sepatutnya orangtua juga membicarakan edukasi sex. Anak-anak tak hanya perlu tahu apa bedanya lelaki dan perempuan dari organ reproduksinya saja. Mereka juga harus tahu bahwa tubuh mereka belum siap memiliki bayi dan ancamannya adalah nyawa. Tetapi ini bukan cuma urusan orangtua yang memiliki anak-anak saja. Kita semua bertanggung jawab terhadap generasi muda kita. Kita harus mendorong edukasi sex di ruang publik dan membicarakan hal-hal yang tabu agar isu ini tak tenggelam tanpa jalan keluar. Walaupun ending film ini bukanlah jenis happily ever after yang disukai oleh publik, sebenarnya ini ending terbaik yang bisa diambil. Ending dari Dua Garis Biru akan mengajarkan pada kita semua bahwa masa depan seorang perempuan tak harus berhenti atau hancur hanya karena ia memiliki bayi. Dua Garis Biru memberikan harapan kepada perempuan-perempuan di luar sana yang ada di posisi Dara untuk melanjutkan hidupnya dan menjadi versi terbaik dirinya. Masih ada kesempatan kedua dari kehancuran yang sempat ia jalani.